Saturday, May 25, 2013

Pengertian dan Unsur-Unsur Jarimah


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Jarimah

Pengertian Jarimah secara terminologi adalah larangan-larangan syara’ yang diancamkan oleh Allah SWT dengan ancaman hukuman had atau ta’zir. Larangan-larangan tersebut kemungkinan berupa melakukan perbuatan atau hal yang dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan atau yang di wajibkan. Dengan kata-kata ‘syara’ pada pengertian tersebut diatas, yang dimaksud ialah bahwa sesuatu perbuatan baru dipandang sebagai jarimah apabila dilarang oleh syara. Juga berbuat atau tidak berbuat tidak dianggap sebagai jarimah, kecuali jika diancamkan hukuman kepadanya. Dikalangan fuqaha, hukuman biasa disebut dengan kata-kata ajizyah dan mufradnya jaza.[1]
Para fuqaha sering sekali memaknai kata-kata jinayah untuk jarimah. Semula pengertian jinayah adalah hasil perbuatan seseorang, dan biasanya dibatasi kepada perbuatan yang dilarang saja. Dikalangan fuqaha, yang dimaksud dengan kata jinayah ialah perbuatan yang dilarang oleh syara; baik perbuatan itu mengenai (merugikan) jiwa atau harta benda ataupun lainnya.[2]
Akan tetapi kebanyakan fuqaha memaknai kata-kata jinayah hanya untuk perbuatan yang mengenai jiwa orang atau anggota tubuh, seperti : membunuh, melukai, memukul, menggugurkan kandungan dan sebagainya. Adapula golongan fuqaha yang membatasi pemakaian kata-kata jarimah hanya kepada jarimah hudud dan qisas saja.[3] Dengan menyampingkan perbedaan pemakaian kata-kata jinayah dikalangan fuqaha, dapatlah kita katakan bahwa kata-kata jinayah dalam istilah fuqaha sama dengan kata-kata jarimah.
Kata jinayah juga dipakai dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Republik Persatuan Arab (KUHP RPA), akan tetapi dengan pengertian yang berbeda dengan pengertian yang berlaku di golongan fuqaha. Dalam KUHP RPA, terdapat tiga macam penggolongan tindak pidana, yang didasarkan kepada berat ringannya hukuman, yaitu jinayah[4], jinhah[5] dan mukhalafah[6]. Dalam istilah fuqaha, ketiga macam tindak pidana tersebut dinamakan jinayah, sebab yang menjadi perhatian pada mereka ialah sifat kepidanaannya, sedang dalam KUHP RPA yang menjadi perhatian ialah berat-ringannya hukuman.[7]

B.     Unsur-unsur Jarimah

Tiap-tiap jarimah harus mempunyai unsur-unsur umum yang harus dipenuhi, yaitu :
1.      Nas (Al-Quran dan Hadits)  yang melarang perbuatan dan mengancamkan hukuman terhadapnya, dan unsur ini biasa disebut unsur formil (rukun syar’i)
2.      Adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan-perbuatan nyata ataupun sikap tidak berbuat, dan unsur ini biasa disebut unsur materiel (rukun maddi)
3.      Pembuat adalah irang mukallaf, yaitu orang yang dapat dimintai pertanggungjawab terhadap jarimah yang diperbuatnya, dan unsur ini biasa disebut unsur moril (rukun adabi).[8]
Disamping unsur umum pada tiap-tiap jarimah juga terdapat unsur-unsur khusus untuk dapat dikenakan hukuman, seperti unsur pengambilan dengan diam-diam bagi jarimah pencurian.
Perbedaan unsur-unsur umum dengan unsur khusus adalah kalau unsur umum satu macamnya pada semua jarimah, sedangkan unsur-unsur khusus dapat berbeda-beda bilangan dan macamnya menurut perbedaan jarimah.
Dikalangan fuqaha biasanya pembicaraan tentang kedua unsur umum dan unsur khusus dipersatukan, yaitu ketika membicarakan satu persatunya jarimah.
C.    Pembagian Jarimah

Jarimah-jarimah dapat berbeda penggolongannya, menurut perbedaan cara meninjaunya:
a.      Dilihat dari segi berat-ringannya hukuman (uqubah)
Jarimah dibagi tiga, yaitu Jarimah Hudud, Jarimah Qisas diyat, dan Jarimah Ta’zir.

1.      Jarimah Hudud
Jarimah hudud dan uqubahnya adalah tindak pidana yang diancam dengan hukuman hadd yaitu hukuman yang kualitasnya ditentukan dalam nash.
Hukuman had sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah:
“Hukuman had adalah hukuman yang telah ditentukan oleh syara’ dan merupakan hak Allah.[9]
Yang termasuk jarimah hudud ada tujuh, yaitu: zina, qadzaf (menuduh zina), pencurian (sariqoh), perampokan (hirabah), meminum minuman keras (sukr), pemberontakan (baghyu) , dan murtad (riddah).
2.      Jarimah Qisas diyat
Jarimah qisas diyat yaitu perbuatan-perbuatan yang diancamkan hukuman qisas atau hukuman diyat. Baik qisas maupun diyat adalah hukuman-hukuman yang telah ditentukan batasnya, dan tidak mempunyai batas terendah atau batas tertinggi, tetapi menjadi hak perseorangan, dengan pengertian bahwa si korban bisa memaafkan si pembuat. Dan apabila dimaafkan, maka hukuman tersebut menjadi hapus.[10]
Jarimah qisas-diyat adalah tindak pidana yang diancam dengan hukuman qisas yaitu hukuman yang setimpal dengan pidana yang dilakukan.
Yang termasuk dalam kategori jarimah qisas-diyat adalah:
1). Pembunuhan sengaja (al-qatl al-amd), 2). Pembunuhan semi sengaja (al-qatl sibh al-amd), 3). Pembunuhan keliru (al qatl al-khata’), 4) Penganiayaan sengaja (al-jarh al-amd), 5). Penganiayaan salah (al-jarh al-khata’).
3.   Jarimah Ta’zir
Jarimah Ta’zir yaitu ketentuan jarimah yang berdasarkan kesepakatan dan ketentuan masyarakat muslim;
-          Belum diatur atau tidak diatur dalam Nash
-          Tidak bertentangan dengan Ajaran Nash
Dalam hal ini hakim diberi kebebasan untuk memilih hukuman-hukuman mana yang sesuai dengan macam jarimah ta’zir serta keadaan si pembuatnya juga. Jadi hukuman jarimah ta’zir tidak memiliki batas tertentu.[11]
Dilihat dari berubah tidaknya sifat jarimah dan jenis hukuman, para fuqaha membagi jarimah ta’zir ke dalam dua bentuk yaitu; 1) Jarimah ta’zir yang jenisnya ditentukan oleh syara’, seperti mu’amalah dengan cara riba, memicu timbangan, mengkhianati amanat, korupsi, menyuap, manipulasi, nepotisme, dan berbuat curang. Perbuatan tersebut semua dilarang, akan tetapi sanksinya sepenuhnya diserahkan kepada penguasa. 2). Jarimah ta’zir yang ditentukan oleh pihak penguasa atau pemerintah.
b.      Dilihat dari niat si pembuat (pelaku)
Jarimah dibagi dua, yaitu: Jarimah Sengaja (dolus) dan Jarimah Tidak Sengaja (colpus).

1.      Jarimah Sengaja (dolus)
Menurut Muhammad Abu Zahrah, yang dimaksud dengan jarimah sengaja adalah suatu jarimah yang dilakukan oleh seseorang dengan kesengajaan dan atas kehendaknya serta ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dan diancam dengan hukuman.[12]
Artinya, dalam hal ini terdapat 3 Unsur yaitu:
a)     Unsur kesengajaan,
b)     Unsur kehendak yang bebas dalam melakukannya,
c)     Unsur pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan.
2.   Jarimah Tidak Sengaja (colpus)
Abdul Qadir Audah mengemukakan pengertian jarimah tidak sengaja sebagai berikut:
Jarimah tidak sengaja adalah jarimah dimana pelaku tidak sengaja (berniat) untuk melakukan perbuatan yang dilarang dan perbuatan tersebut terjadi sebagai akibat kelalaiannya (kesalahannya).
Kekeliruan/kesalahan ada 2 macam yaitu:
1. Keliru dalam perbuatan ﺨﻂﺄ  ﻓﻰ  ﺍﻠﻔﻌﻞ
Contohnya: seseorang yang menembak binatang buruan, tetapi pelurunya menyimpang mengenai manusia.
2. Keliru dalam dugaan  ﺨﻂﺄ  ﻓﻰ ﺍﻠﻗﺻﺪ 
Contohnya: seseorang yang menembak orang lain yang disangkanya penjahat yang sedang dikejarnya, tetapi ternyata ia penduduk biasa.

c.       Dilihat dari segi mengerjakannya
Jarimah dibagi menjadi dua yaitu: Jarimah Positif dan Jarimah Negatif.

1.      Jarimah Positif (jarimah ijabiyyah)
Terjadi karena mengerjakan suatu perbuatan yang dilarang, seperti mencuri, zina, memukul dan sebagainya. Disebut juga “delicta commissionis”.[13]
2.      Jarimah Negatif (jarimah salabiyyah)
Terjadi karena tidak mengerjakan sesuatu perbuatan yang diperintahkan, seperti tidak mengeluarkan zakat. Disebut juga “delicta ommissionis”.[14]

d.      Dilihat dari segi orang yg menjadi korban (yg terkena) akibat perbuatan
Jarimah dibagi menjadi dua yaitu : Jarimah Perseorangan dan Jarimah Masyarakat.
1.      Jarimah Perseorangan
Jarimah dimana hukuman terhadapnya dijatuhkan untuk melindungi kepentingan perseorangan,  meskipun sebenarnya apa yang menyinggung perseorangan juga menyinggung masyarakat.[15]
2.      Jarimah Masyarakat
Jarimah dimana hukuman terhadapnya dijatuhkan untuk menjaga kepentingan masyarakat, baik jarimah tersebut mengenai perseorangan atau mengenai ketentraman masyarakat dan keamanannya.[16]

e.       Dilihat dari segi cara-caranya yang khusus
Ada dua :
1.      Jarimah Biasa
2.      Jarimah Politik : Jarimah yang biasa dilakukan karena adanya motif politik, misalnya melakukan pembunuhan terhadap pejabat Negara.[17]

D.    Sanksi-sanksi Jarimah

Jenis sanksi Jarimah ada 4 yaitu:
1.      Al-Uqubah Al-Asliyyah yaitu hukuman yang telah ditentukan dan merupakan hukuman pokok seperti ketentuan qishas dan hudud.
2.      Al-uqubah Al-Badaliyyah yaitu hukuman pengganti. Hukuman ini bisa dikenakan sebagai pengganti apabila hukuman primer tidak diterapkan karena ada alasan hukum yang sah seperti diyat atau ta’zir.
3.      Al-Uqubah Al-Tab’iyyah yaitu hukuman tambahan yang otomatis ada yang mengikuti hukuman pokok atau primer tanpa memerlukan keputusan tersendiri seperti hilangnya mewarisi karena membunuh.
4.      Al-Uqubah Al-Takmiliyyah yaitu hukuman tambahan bagi hukuman pokok dengan keputusan hakim tersendiri seperti menambahkan hukuman kurungan atau diyat terhadap al-uqubah al-Asliyyah.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Pengertian Jarimah
Pengertian Jarimah secara terminologi adalah larangan-larangan syara’ yang diancamkan oleh Allah SWT dengan ancaman hukuman had atau ta’zir. Larangan-larangan tersebut kemungkinan berupa melakukan perbuatan atau hal yang dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan atau yang di wajibkan.

2.      Unsur-unsur Jarimah
Adapun Unsur-unsur Jarimah bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu unsur umum dan unsur khusus.
Unsur umum jarimah ada tiga macam, yaitu:
1)      Unsur formil (Rukun Syar’i)
2)      Unsur materiil (Rukun Maddi)
3)      Unsur moril (Rukun Adabi)
Sedangkan yg dimaksud degan Unsur Khusus adalah unsur yang hanya terdapat pada peristiwa pidana tertentu dan berbeda antara unsur khusus pada jenis jarimah yang satu dengan jenis jarimah yang lainnya.
Artinya, suatu perbuatan dapat dikenakan hukuman, misalnya seperti unsur pengambilan dengan diam-diam bagi “jarimah pencurian”.

3.      Pembagian Jarimah
a.       Dilihat dari segi berat ringannya hukuman (uqubah), jarimah dibagi menjadi 3 macam, yaitu; Jarimah Hudud, Jarimah Qisas-Diyat, dan Jarimah Ta’zir.
b.      Dilihat dari niat si pembuat (pelaku),
Jarimah dibagi dua, yaitu: jarimah sengaja (dolus) dan jarimah tidak sengaja (colpus).
c.       Dilihat dari segi mengerjakannya,
Jarimah dibagi menjadi dua yaitu: Jarimah Positif dan Jarimah Negatif.
d.      Dilihat dari segi orang yg menjadi korban (yg terkena)   akibat perbuatan,
Jarimah dibagi menjadi dua yaitu : Jarimah Perseorangan dan Jarimah Masyarakat.
e.       Dilihat dari segi cara-caranya yang khusus,
Ada dua yaitu Jarimah Biasa dan Jarimah Politik.

4.      Sanksi-sanksi Jarimah
Jenis sanksi Jarimah ada 4 yaitu:
1.      Al-Uqubah Al-Asliyyah
2.      Al-uqubah Al-Badaliyyah
3.      Al-Uqubah Al-Tab’iyyah
4.      Al-Uqubah Al-Takmiliyyah








DAFTAR PUSTAKA

Ahmad hanifa, asas-asas hukum pidana islam (jakarta:midas surya grafindo, 1993)
Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005)



[1] Ahmad hanifa, asas-asas hukum pidana islam (jakarta:midas surya grafindo, 1993), hal : 1
[2] Ibid
[3] Ibid hal 2
[4] Jinayah ialah suatu tindak pidana yang diancamkan hukuman mati (i’dam), atau kerja berat seumur hidup (asyghal syaqqah qatah), atau kerja berat sementara (asyghal syaqqah almuaqqatah) atau penjara (Pasal 10 KUHP RPA).

[5] Janhah ialah suatu tindak pidana yang diancamkan hukuman kurungan lebih dari satu minggu atau denda lebih dari seratus piaster (qirsy=satu pound RPA) sesuai (Pasal 11 KUHP RPA).

[6] Mukhalafah ialah suatu tindak pidana yang diacamkan hukuman kurungan tidak lebih dari satu minggu atau hukuman denda tidak lebih dari seratus piaster (Pasal 12 KUHP RPA).

[7] Ibid
[8] Ibid hal 6
[9] Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. x
[10] Ibid hal 8
[11] Ibid hal 8
[12] Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam-Fikih Jinayah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 22
[13] Ibid hal 14
[14] Ibid hal 14
[15] Ibid
[16] Ibid hal 17
[17] http://www.ziddu.com/download/14636310/01.fiqhjinayah.docx.html
Comments

No comments: